Zetizen - Putus cinta sering kali diasosiasikan dengan akhir dari segalanya: komunikasi terhenti, kontak dihapus, bahkan saling menghindar di tempat umum. Namun, tidak semua kisah berakhir seperti itu.
Ada pula yang memilih tetap menjalin hubungan baik sebagai teman setelah hubungan romantis usai.
Pertanyaannya, mungkinkah berteman dengan mantan tanpa terbawa perasaan atau konflik emosional baru?
Seiring berkembangnya pola pikir tentang hubungan, berteman dengan mantan bukanlah hal yang asing lagi.
Sebagian orang menganggap mantan sebagai bagian dari masa lalu yang pernah penting, dan bukan berarti harus dihapus sepenuhnya dari kehidupan.
Namun, tentu saja, ini bukan pilihan yang cocok untuk semua orang. Ada batasan yang perlu dipahami agar hubungan tersebut tetap sehat, baik secara emosional maupun sosial.
Mengapa Beberapa Orang Memilih Berteman dengan Mantan?
Menurut psikolog klinis Dr. Kristin Davin, beberapa mantan pasangan memilih untuk tetap berteman karena mereka telah membangun fondasi komunikasi yang kuat, memiliki kesamaan nilai, atau berada dalam lingkaran sosial yang sama.
Dalam kasus tertentu, pasangan yang berpisah secara damai dan dewasa cenderung lebih mampu mempertahankan hubungan pertemanan yang sehat.
Motivasi untuk tetap berteman juga bisa datang dari keinginan untuk menjaga kedekatan emosional, terutama jika hubungan tersebut berakhir bukan karena konflik besar, melainkan karena faktor eksternal seperti jarak, prioritas hidup, atau waktu yang tidak tepat.
Batas yang Harus Dijaga
Meskipun mungkin, berteman dengan mantan bukan tanpa risiko. Salah satu kesalahan paling umum adalah tidak adanya batasan yang jelas.
Tanpa kejelasan, pertemanan ini bisa menimbulkan kebingungan emosional atau menyulitkan hubungan baru, baik bagi salah satu pihak maupun pasangan barunya.
Pakar hubungan Dr. Jenn Mann, penulis buku The Relationship Fix, menyarankan bahwa batasan adalah kunci dalam menjaga kedekatan yang sehat dengan mantan.
Batasan ini bisa berupa frekuensi komunikasi, topik obrolan, dan kejelasan tentang status hubungan.
Ia menekankan pentingnya kejujuran pada diri sendiri: apakah pertemanan ini benar-benar netral, atau masih ada emosi yang belum selesai?
Tidak Semua Hubungan Patut Dipertahankan
Berteman dengan mantan bukanlah keharusan, apalagi jika hubungan sebelumnya menyimpan luka yang dalam.
Jika relasi dipenuhi dengan manipulasi, kekerasan emosional, atau pengkhianatan, menjaga jarak bisa menjadi pilihan yang lebih sehat.
Hubungan masa lalu yang toxic sering kali membawa trauma tersendiri, dan mencoba membangun pertemanan hanya akan membuka kembali luka lama.
Dalam survei yang dilakukan oleh Kansas State University, lebih dari 60% responden mengaku tetap berhubungan dengan mantan karena alasan kenyamanan atau kesepian, bukan karena relasi tersebut benar-benar sehat.
Namun, dalam jangka panjang, hubungan semacam ini justru meningkatkan risiko kecemasan dan ketidakpastian dalam kehidupan pribadi. (Source: KSU Research)
Pertimbangkan Hubungan Baru
Jika salah satu atau kedua pihak sudah berada dalam hubungan baru, menjaga komunikasi dengan mantan harus disesuaikan.
Keterbukaan dengan pasangan saat ini adalah kunci untuk menghindari kesalahpahaman.
Tidak sedikit hubungan yang rusak karena komunikasi diam-diam dengan mantan yang dianggap melanggar kepercayaan.
Dalam studi yang dimuat di Personal Relationships Journal, disebutkan bahwa pasangan yang terbuka dan transparan mengenai masa lalu mereka, termasuk hubungan dengan mantan, cenderung memiliki hubungan yang lebih sehat dan tahan lama.
Teman Boleh, Tapi Jangan Kehilangan Diri
Berteman dengan mantan bisa menjadi bentuk kedewasaan emosional jika dilakukan dengan batasan yang jelas dan komunikasi yang jujur.
Namun, keputusan ini tidak harus diambil demi terlihat "dewasa" atau mengikuti ekspektasi sosial. Yang paling penting adalah kejelasan niat dan kesadaran diri.
Tidak semua mantan cocok dijadikan teman, dan itu bukan tanda kegagalan. Justru, tahu kapan harus menjauh demi kebaikan bersama adalah bentuk keberanian.
Teman boleh siapa saja, tapi jangan sampai kehilangan kendali atas diri sendiri dan perasaan yang belum tuntas. Karena kadang, melepaskan sepenuhnya justru cara terbaik untuk bertumbuh.



