TRENDING
Lagu Oasis Wonderwall Kembali Viral di 2026•17 Brand Lokal Pakaian Terlaris•7 Manfaat Buah Untuk Kesehatan•LNGSHOT Menang di KMA 2026•Apple MacBook Neo Hadir di Indonesia•Lagu Oasis Wonderwall Kembali Viral di 2026•17 Brand Lokal Pakaian Terlaris•7 Manfaat Buah Untuk Kesehatan•LNGSHOT Menang di KMA 2026•Apple MacBook Neo Hadir di Indonesia•

Delulu is the Solulu: Escapism ala Gen Z?

p
Kamis, 31 Jul 2025•31 Jul 2025
Delulu is the Solulu: Escapism ala Gen Z?
Sumber : iStockFoto: pingki maharani / Zetizen Media

Zetizen - Di tengah tekanan hidup modern yang semakin kompleks, generasi Z menemukan berbagai cara unik untuk melepas stres dan mencari pelarian dari realitas yang terkadang terasa berat.

Salah satunya adalah fenomena delulu yang kini ramai diperbincangkan di kalangan anak muda, khususnya lewat media sosial. Ungkapan “Delulu is the Solulu” menjadi populer sebagai sindiran sekaligus pengakuan bahwa berkhayal atau “delusi” bisa menjadi solusi sementara untuk menghadapi hidup.

Namun, apakah escapism ala Gen Z ini hanya sebatas hiburan sesaat, ataukah memiliki fungsi psikologis yang lebih dalam? Artikel ini akan membahas fenomena delulu, alasan di baliknya, siapa saja yang mengalaminya, serta dampak positif dan negatifnya.

Apa Itu Delulu?

Delulu merupakan singkatan dari “delusional,” yang dalam bahasa Indonesia berarti berkhayal atau memendam harapan yang dianggap tidak realistis.

Dalam konteks Gen Z, delulu sering digunakan secara santai dan bercanda untuk menggambarkan kebiasaan membayangkan hal-hal yang diinginkan, seperti berfantasi tentang kehidupan ideal, hubungan asmara, atau kesuksesan yang belum tercapai. Istilah ini banyak tersebar di platform seperti Twitter, TikTok, dan Instagram.

Mengapa Gen Z Sering Menggunakan Escapism dengan Cara Delulu?

Tekanan sosial, ekonomi, dan global yang dihadapi generasi muda saat ini cukup besar. Menurut data dari American Psychological Association (APA, 2023), tingkat kecemasan dan stres pada Gen Z tergolong paling tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.

Escapism atau pelarian menjadi mekanisme coping yang umum digunakan untuk mengurangi beban emosional tersebut. Delulu hadir sebagai cara yang mudah dan kreatif untuk mengekspresikan keinginan dan harapan tanpa harus menghadapi realitas yang menekan secara langsung.

Melalui fantasi yang dibagikan dalam bentuk meme, video, atau cerita, Gen Z dapat merasa terhibur sekaligus terhubung dengan orang lain yang memiliki pengalaman serupa.

Siapa yang Terlibat dalam Fenomena Ini?

Fenomena delulu tidak terbatas pada kelompok tertentu, tetapi lebih umum ditemukan di kalangan remaja dan dewasa muda yang aktif di media sosial.

Mereka yang merasa tertekan oleh realitas hidup, termasuk kesulitan ekonomi, pendidikan, atau hubungan sosial, cenderung menggunakan escapism ini sebagai pelampiasan emosi.

Selain itu, konten kreator dan influencer yang “mengangkat” tema delulu juga memperluas jangkauan fenomena ini, membuatnya menjadi bagian dari budaya pop Gen Z.

Bagaimana Cara Delulu Bekerja sebagai Escapism?

Delulu memungkinkan seseorang untuk membangun dunia imajinasi yang lebih menyenangkan dan aman dibandingkan dunia nyata. Dengan berfantasi, otak mengalihkan fokus dari masalah sehari-hari ke pengalaman yang lebih positif dan menghibur. Hal ini serupa dengan mekanisme psikologis escapism yang telah lama dikenal.

Namun, delulu juga dibarengi dengan kesadaran bahwa fantasi tersebut tidak nyata, sehingga sebagian besar penggunanya masih mampu membedakan antara kenyataan dan imajinasi.

“Delulu is the Solulu” menggambarkan realitas bahwa berkhayal bisa menjadi solusi instan bagi banyak Gen Z dalam menghadapi dunia yang penuh tekanan. Sumber : pexels

Apa Dampak Positif dan Negatif dari Escapism ala Delulu?

Dampak Positif:

  • Pengurangan Stres: Berkhayal atau mengekspresikan delulu dapat memberikan rasa lega sementara dari tekanan.

  • Kreativitas dan Ekspresi Diri: Escapism lewat delulu memicu kreativitas dan membuat individu lebih terbuka mengekspresikan perasaan.

  • Sarana Sosialisasi: Media sosial sebagai tempat berbagi delulu membuka ruang diskusi dan solidaritas antar Gen Z.

Dampak Negatif:

  • Potensi Mengabaikan Realitas: Jika terlalu sering dan berlebihan, delulu bisa membuat seseorang menghindari masalah nyata dan kehilangan motivasi.

  • Gangguan Kesehatan Mental: Escapism yang tidak seimbang dapat memperburuk kecemasan atau depresi jika digunakan sebagai pelarian utama.

  • Stigma dan Salah Paham: Istilah delulu kadang disalahartikan atau dipandang negatif, yang dapat menyebabkan tekanan sosial.

Kapan dan Di Mana Delulu Muncul?

Delulu biasanya muncul dalam situasi ketika seseorang merasa stres, lelah, atau kecewa, dan di waktu senggang saat menikmati konten media sosial. Platform seperti TikTok, Twitter, dan Instagram menjadi ruang utama bagi ekspresi delulu dengan konten berupa meme, video lucu, dan thread cerita.

Mengapa Fenomena Ini Penting untuk Dipahami?

Memahami escapism ala delulu penting agar kita dapat melihatnya bukan hanya sebagai bentuk “kemalasan” atau “ketidaksungguhan,” tetapi sebagai bagian dari strategi psikologis yang alami dalam menghadapi tekanan hidup. Dengan pengelolaan yang baik, delulu bisa menjadi alat bantu untuk menjaga kesehatan mental dan memberikan ruang kreatif bagi generasi muda.

Delulu sebagai Solusi Sementara yang Butuh Batas

“Delulu is the Solulu” menggambarkan realitas bahwa berkhayal bisa menjadi solusi instan bagi banyak Gen Z dalam menghadapi dunia yang penuh tekanan. Meski escapism ini membantu mengurangi stres dan meningkatkan kreativitas, penting bagi setiap individu untuk tetap menjaga keseimbangan antara fantasi dan realitas agar hidup tetap produktif dan sehat secara mental.

Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini?

602 pembaca telah memberikan tanggapan

Related Article

Lihat Semua →