TRENDING
Lagu Oasis Wonderwall Kembali Viral di 2026•17 Brand Lokal Pakaian Terlaris•7 Manfaat Buah Untuk Kesehatan•LNGSHOT Menang di KMA 2026•Apple MacBook Neo Hadir di Indonesia•Lagu Oasis Wonderwall Kembali Viral di 2026•17 Brand Lokal Pakaian Terlaris•7 Manfaat Buah Untuk Kesehatan•LNGSHOT Menang di KMA 2026•Apple MacBook Neo Hadir di Indonesia•

Arti Self-Love yang Sebenarnya: Lebih dari Sekadar Skincare dan Me Time

p
Selasa, 12 Agu 2025•12 Agu 2025
Arti Self-Love yang Sebenarnya: Lebih dari Sekadar Skincare dan Me Time
Source : iStockFoto: pingki maharani / Zetizen Media

Zetizen - Dalam beberapa tahun terakhir, istilah self-love atau mencintai diri sendiri menjadi populer, terutama di kalangan anak muda. Konten media sosial dipenuhi dengan ajakan untuk merawat diri: membeli lilin aromaterapi, mencoba produk skincare terbaru, hingga mengambil waktu untuk liburan singkat.

Namun, seiring dengan menjamurnya tren ini, muncul pertanyaan mendasar: apakah self-love sesederhana itu? Ataukah ada makna yang lebih dalam dari sekadar rutinitas perawatan kulit?

Tidak dapat dipungkiri, industri kecantikan dan gaya hidup turut andil dalam membentuk persepsi masyarakat mengenai self-love.

Dalam laporan dari Global Wellness Institute (2023), pasar produk dan layanan self-care global mengalami peningkatan sebesar 12% dalam setahun terakhir. Di Indonesia sendiri, pertumbuhan sektor beauty and wellness semakin signifikan, dengan kampanye yang kerap mengaitkan perawatan tubuh dengan bentuk mencintai diri.

Meski tidak salah, konsep ini menjadi sempit ketika self-love hanya diartikan sebagai aktivitas konsumtif.

Banyak orang merasa gagal mencintai diri hanya karena belum mampu membeli produk perawatan mahal atau belum sempat mengambil cuti untuk berlibur.

Padahal, self-love bukan hanya tentang tubuh, tetapi juga tentang cara memperlakukan dan memahami diri secara menyeluruh.

Menurut Positive Psychology Center di University of Pennsylvania, self-love adalah sikap menerima diri secara utuh, termasuk kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Ini berarti bersikap penuh kasih terhadap diri sendiri meskipun sedang berada dalam masa sulit.

Dalam jurnal Psychology Today, Dr. Deborah Khoshaba menjelaskan bahwa self-love melibatkan kesadaran, penerimaan, dan komitmen terhadap pertumbuhan diri, bukan sekadar indulgensi atau hadiah sesaat.

Self-love juga berarti berani menetapkan batasan, berkata “tidak” ketika merasa lelah, dan tidak terus-menerus menyalahkan diri saat melakukan kesalahan.

Padahal, self-love bukan hanya tentang tubuh, tetapi juga tentang cara memperlakukan dan memahami diri secara menyeluruh. Source : iStock

Ini mencakup kemampuan untuk memaafkan, belajar dari pengalaman, serta tidak membandingkan pencapaian diri dengan orang lain. Mencintai diri bukan tugas yang sederhana, terutama di tengah budaya yang menuntut kesempurnaan.

Media sosial kerap menampilkan citra ideal yang sulit dicapai. Saat melihat orang lain yang tampak lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih “terawat”, muncul perasaan tidak cukup baik.

Hal ini diperkuat oleh survei dari American Psychological Association (2023) yang menyebutkan bahwa 43% generasi muda merasa tidak puas dengan diri sendiri akibat pengaruh media digital.

Selain itu, pengalaman hidup seperti trauma, kegagalan, atau pola asuh masa kecil juga memengaruhi kemampuan seseorang untuk mencintai dirinya sendiri.

Banyak yang tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai diri tergantung pada pencapaian atau validasi dari luar, bukan dari penghargaan internal.

Membangun cinta pada diri sendiri bukan proses instan, tetapi dapat dilakukan secara bertahap melalui refleksi dan kebiasaan sadar. Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan:

  • Menerima kekurangan sebagai bagian dari diri, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

  • Menetapkan batasan yang sehat, baik dalam hubungan sosial maupun pekerjaan.

  • Berbicara dengan diri sendiri secara positif, mengganti kalimat seperti “aku gagal” menjadi “aku sedang belajar”.

  • Merawat tubuh dan pikiran dengan aktivitas yang membawa ketenangan, tidak hanya yang terlihat instagramable.

  • Menghargai pencapaian kecil, tanpa harus menunggu validasi dari orang lain.

Self-love juga erat kaitannya dengan keberanian untuk mencari bantuan profesional saat dibutuhkan. Mengakses layanan konseling atau terapi bukan tanda kelemahan, tetapi justru bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan diri.

Banyak yang keliru mengira bahwa mencintai diri berarti selalu merasa bahagia dan percaya diri. Nyatanya, self-love juga hadir dalam bentuk kejujuran, mengakui bahwa sedang tidak baik-baik saja dan tetap menerima diri dalam kondisi itu.

Saat seseorang bisa berdamai dengan kegagalan, memaafkan luka lama, dan tetap memilih untuk merawat dirinya, itulah bentuk tertinggi dari self-love. Self-love tidak selalu tampak indah di permukaan. Ia bukan sekadar masker wajah atau akhir pekan di spa.

Cinta pada diri sejati adalah tentang memahami, menerima, dan tumbuh bersama diri sendiri dalam segala kondisi. Karena pada akhirnya, hidup yang utuh bukan tentang menjadi sempurna di mata orang lain, melainkan merasa cukup dan damai dalam diri sendiri.

Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini?

602 pembaca telah memberikan tanggapan

Related Article

Lihat Semua →