Zetizen - Dunia tidak kekurangan pahlawan, tapi hanya sedikit yang mampu membuat orang percaya lagi pada kebaikan. Setelah bertahun-tahun diselimuti suasana kelam dari jagat pahlawan super, DC Studios mencoba menyalakan kembali obor harapan lewat sebuah tokoh yang tak lekang oleh waktu: Superman.
Film terbaru berjudul “Superman” (2025) garapan James Gunn bukan sekadar reboot, melainkan permulaan semesta sinematik baru yang dinamai DC Universe Chapter One: Gods and Monsters. Di tangan Gunn, sosok Superman tidak dihadirkan sebagai dewa tak tersentuh, tetapi sebagai manusia super yang berusaha memahami dunia dan dirinya sendiri—seorang jurnalis idealis bernama Clark Kent, yang menyembunyikan identitasnya sebagai pelindung Bumi.
Sinopsis Superman (2025)
Clark Kent sudah bekerja sebagai reporter di harian Daily Planet, menjalani kehidupan sederhana di tengah gemuruh kota Metropolis. Ia dibesarkan oleh pasangan petani di Kansas, dengan nilai-nilai kasih sayang dan empati yang tertanam kuat sejak kecil. Tapi Clark bukan manusia biasa. Ia adalah anak yang selamat dari kehancuran planet Krypton, kini hidup di Bumi dengan kekuatan yang melampaui imajinasi.
Meski mampu menyelamatkan dunia, Clark menghadapi dilema yang lebih dalam: bagaimana menjadi manusia di tengah kekuatan yang membuatnya berbeda? Ketika dunia semakin terpecah dan kepercayaan terhadap pahlawan mulai runtuh, Clark harus memilih apakah akan tetap berdiri sebagai simbol harapan, atau bersembunyi dalam ketakutan akan penolakan.
Sementara itu, muncul ancaman dari Lex Luthor, tokoh kuat dan manipulatif yang melihat keberadaan Superman sebagai gangguan terhadap tatanan dunia. Ketegangan antara kebaikan dan kekuasaan perlahan membangun konflik yang lebih besar.
Dalam perjalanannya, Superman tidak sendiri. Ia berjumpa dengan sekumpulan pahlawan lain—Mister Terrific, Hawkgirl, Green Lantern (Guy Gardner), Metamorpho, dan bahkan seekor anjing super bernama Krypto. Mereka tidak hanya memperluas dunia yang dihuni Superman, tetapi juga mengingatkan bahwa kekuatan terbesar datang dari kemampuan untuk tetap baik di dunia yang semakin sinis.
Fakta Menarik Superman (2025)
Film Pembuka Semesta Baru DC
Superman (2025) adalah film pertama dari babak baru DC Universe di bawah kendali kreatif James Gunn. Semesta ini disebut "Gods and Monsters".
Diperankan oleh David Corenswet
Aktor yang dikenal dari serial The Politician ini dipercaya memerankan Clark Kent. Ia menjadi aktor pertama yang tampil sebagai Superman di semesta DC baru.
Rachel Brosnahan sebagai Lois Lane
Aktris pemenang Emmy ini membawa karakter Lois ke arah yang cerdas, tajam, dan mandiri. Chemistry antara Lois dan Clark disebut kuat oleh kritikus awal.
Nicholas Hoult sebagai Lex Luthor
Pemeran Beast dalam X-Men kini berperan sebagai musuh bebuyutan Superman. Versi Lex Luthor kali ini digambarkan lebih dingin dan penuh strategi.
Tidak Mengulang Cerita Asal-usul
Film ini tidak lagi menceritakan bagaimana Superman tiba di Bumi. Cerita dimulai saat Clark sudah dewasa dan menjalani profesi jurnalistiknya.
Krypto, Anjing Super, Hadir di Film
Salah satu daya tarik film ini adalah kemunculan Krypto, anjing peliharaan Superman yang juga memiliki kekuatan super. Karakter ini digambarkan dengan nuansa hangat dan jenaka.
Durasi Sekitar 129 Menit
Dengan waktu tayang lebih dari dua jam, film ini memberi ruang cukup untuk membangun karakter tanpa kehilangan ritme penceritaan.
Berisi Pahlawan Lain Selain Superman
Selain fokus pada Clark Kent, film ini mengenalkan tokoh-tokoh lain seperti Mister Terrific (Edi Gathegi), Hawkgirl (Isabela Merced), Green Lantern (Nathan Fillion), dan Metamorpho (Anthony Carrigan).
Tema Utamanya adalah Kebaikan
James Gunn menyatakan bahwa film ini ingin mengembalikan esensi Superman sebagai simbol kebaikan dan empati, bukan sekadar kekuatan.
Tayang Global Mulai 11 Juli 2025
Film ini dijadwalkan tayang serentak secara global pada pertengahan Juli, termasuk di Indonesia.
Di tengah tren film superhero yang cenderung gelap dan kompleks, kehadiran Superman (2025) seperti udara segar. James Gunn tidak hanya menghidupkan kembali tokoh ikonik ini, tetapi juga menyuntikkan semangat optimisme yang telah lama hilang di genre ini.
Film ini tidak berusaha menjadi megah atau dramatis berlebihan, justru kekuatannya terletak pada kesederhanaan: tentang seseorang yang ingin berbuat baik, meski tahu itu tidak selalu dihargai.
Mungkin itu sebabnya Superman selalu relevan. Di dunia yang keras dan penuh ketidakpastian, ia tetap berdiri—bukan sebagai dewa, tapi sebagai manusia yang percaya bahwa kebaikan adalah kekuatan tertinggi.



