TRENDING
Lagu Oasis Wonderwall Kembali Viral di 2026•17 Brand Lokal Pakaian Terlaris•7 Manfaat Buah Untuk Kesehatan•LNGSHOT Menang di KMA 2026•Apple MacBook Neo Hadir di Indonesia•Lagu Oasis Wonderwall Kembali Viral di 2026•17 Brand Lokal Pakaian Terlaris•7 Manfaat Buah Untuk Kesehatan•LNGSHOT Menang di KMA 2026•Apple MacBook Neo Hadir di Indonesia•

FOMO vs FOBO: Ancaman Kesehatan Mental Generasi Online, Plus Tips Menghindarinya

p
Kamis, 14 Agu 2025•14 Agu 2025
FOMO vs FOBO: Ancaman Kesehatan Mental Generasi Online, Plus Tips Menghindarinya
Source : iStockFoto: pingki maharani / Zetizen Media

Zetizen - Pernahkah merasa gelisah ketika tidak membuka media sosial dalam beberapa jam? atau merasa ketinggalan informasi penting karena ponsel kehabisan baterai?

Di balik perkembangan teknologi dan konektivitas yang kian cepat, muncul dua istilah psikologis yang kini menjadi fenomena sosial: FOMO (Fear of Missing Out) dan FOBO (Fear of Being Offline).

Meski kerap dianggap sepele, keduanya mencerminkan dinamika emosional generasi digital yang semakin kompleks.

FOMO: Takut Ketinggalan yang Lain

Fear of Missing Out atau FOMO adalah perasaan cemas yang muncul karena melihat orang lain melakukan sesuatu yang menyenangkan tanpa kehadiran kita.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Dan Herman pada akhir 1990-an, dan kemudian dipopulerkan lewat studi psikologi media oleh Andrew Przybylski pada 2013. FOMO sangat erat kaitannya dengan penggunaan media sosial yang intens.

Ketika seseorang melihat unggahan pesta ulang tahun, konser, liburan, atau pencapaian teman di media sosial, timbul perasaan bahwa kehidupan orang lain lebih menyenangkan.

FOMO sangat erat kaitannya dengan penggunaan media sosial. Source : iStock

Dalam laporan Journal of Behavioral Addictions (2016), FOMO sering dikaitkan dengan penggunaan media sosial berlebihan, kecemasan sosial, dan penurunan kepuasan hidup. Seseorang merasa harus selalu update untuk tidak tertinggal.

Di Indonesia, tren ini juga terlihat jelas. Laporan We Are Social dan Hootsuite (2024) menyebutkan bahwa rata-rata waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia untuk media sosial mencapai 3 jam 17 menit per hari.

Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna merasa terdorong untuk terus terkoneksi, bahkan saat tidak ada urgensi.

FOBO: Ketakutan Saat Tak Terkoneksi

Jika FOMO berbicara soal ketertinggalan informasi atau momen, FOBO lebih ekstrem: rasa takut saat benar-benar tidak bisa terhubung dengan internet.

FOBO bisa muncul ketika seseorang kehilangan sinyal, kehabisan kuota, atau lupa membawa ponsel. Gejala ini mencakup kecemasan berlebihan, panik, dan ketidakmampuan fokus karena tidak bisa online.

FOBO belum sepopuler FOMO dalam istilah akademik, namun fenomenanya makin nyata.

Psikolog klinis dari Universitas Gadjah Mada, Dra. Anna Surti Ariani, M.Si, menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap koneksi internet dan media sosial menyebabkan munculnya gangguan kecemasan baru, salah satunya FOBO.

“Kecanduan digital bukan hanya soal durasi, tapi tentang bagaimana seseorang merasa tidak bisa hidup tanpanya,” jelasnya dalam seminar daring tahun 2023.

Bagi pelajar dan pekerja digital, ketakutan ini seringkali muncul karena khawatir akan kehilangan kabar penting, tugas, atau peluang.

Namun, tanpa disadari, kecemasan ini juga menyita energi mental dan melemahkan kemampuan untuk hadir secara penuh di kehidupan nyata.

Mengapa Fenomena Ini Meningkat?

Salah satu penyebab utama munculnya FOMO dan FOBO adalah tekanan sosial yang tidak disadari. Kehadiran media sosial menciptakan ilusi bahwa semua orang selalu produktif, bahagia, dan bersosialisasi.

Algoritma sengaja menampilkan momen terbaik pengguna lain, memicu perbandingan yang tidak sehat.

Selain itu, budaya real time yang ditawarkan oleh berbagai platform, seperti Instagram Story, WhatsApp Status, dan Twitter (X) trend, memperkuat dorongan untuk terus mengikuti apa yang sedang terjadi. Keterlambatan melihat suatu konten bisa menimbulkan perasaan tertinggal.

Tekanan ini juga diperparah oleh kebutuhan validasi. Banyak orang merasa dihargai ketika mendapatkan likes, komentar, atau views.

Tanpa itu, sebagian merasa keberadaannya kurang berarti. Maka, menjadi offline bukan hanya soal kehilangan koneksi, tapi seolah kehilangan eksistensi sosial.

Apa Dampaknya Terhadap Kesehatan Mental?

Studi dari University of Essex (2022) menemukan bahwa FOMO berkorelasi dengan peningkatan stres, gangguan tidur, dan kecemasan.

Sedangkan FOBO dapat memperparah gejala nomophobia (no mobile phone phobia), yaitu ketakutan berlebihan saat tidak memegang ponsel.

Kedua kondisi ini juga mengganggu kemampuan seseorang untuk fokus, membangun hubungan nyata, dan merawat keseimbangan emosional.

Pada jangka panjang, keterikatan digital yang tidak sehat bisa mengganggu performa akademik, hubungan personal, hingga produktivitas kerja.

Menjadi terlalu terikat dengan dunia maya berisiko menggeser prioritas hidup ke arah yang tidak disadari.

Bagaimana Mengatasi FOMO dan FOBO?

Mengelola FOMO dan FOBO membutuhkan kesadaran diri dan batasan digital yang sehat. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

  • Detoks digital berkala, seperti tidak membuka media sosial selama beberapa jam atau sehari penuh.

  • Membatasi notifikasi hanya untuk hal penting agar tidak terdistraksi terus-menerus.

  • Fokus pada kehadiran nyata, seperti menikmati momen tanpa merekam atau memposting secara langsung.

  • Mengembangkan minat di luar layar, misalnya membaca buku, berjalan kaki, atau berkegiatan kreatif.

Mengenali bahwa tidak semua hal harus diketahui, dilihat, atau dibagikan dapat menjadi langkah awal menuju ketenangan.

Seperti yang diungkapkan oleh penulis Carl Honoré dalam bukunya In Praise of Slow (2004), “Semakin kita melambat, semakin kita hadir sepenuhnya.”

Ketika dunia digital menawarkan koneksi tanpa henti, kemampuan untuk menahan diri justru menjadi bentuk keberanian baru.

FOMO dan FOBO bukanlah aib, melainkan cerminan tantangan manusia modern yang terus belajar menyeimbangkan hidup. Karena terkadang, untuk benar-benar terhubung, kita justru perlu memutus sejenak.

Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini?

602 pembaca telah memberikan tanggapan

Related Article

Lihat Semua →